KAIRO-KEMPALAN: Nama Nawal El-Sadawi pasti dikenal oleh para aktivis keperempuanan karena karya-karyanya yang memberikan sumbangsih besar dalam pemahaman terhadap feminisme dengan pembahasan yang mudah dipahami.
Beliau wafat pada umur 89 tahun di sebuah rumah sakit di Kairo pada Minggu (20/3) setelah lama mengidap penyakit. Beliau adalah pejuang hak-hak perempuan yang banyak menginspirasi perempuan di negara dunia ketiga.
Nawal pertama kali menuliskan novelnya pada umur 13 tahun, ia berusaha dinikahkan pada umur 10 tahun namun menolak, dimana ibunya membela pendirian Nawal.
Ia lulus kuliah kedokteran di Mesir pada tahun 1955 dengan fokus psikiatri. Dia kemudian menjadi direktur kesehatan masyarakat untuk pemerintah Mesir, tetapi diberhentikan pada tahun 1972 setelah menerbitkan buku non-fiksi, Women and Sex, yang mencela FGM (Female Genital Mutilation) dan penindasan seksual terhadap wanita.
Karya terkenalnya, “Perempuan di Titik Nol” pertama kali diterbitkan pada tahun 1975 yang didasarkan pada kisah nyata mengenai perempuan yang akan menghadapi hukuman mati.
Kemudian, pada September 1981, El Saadawi ditangkap sebagai bagian dari penangkapan para pembangkang di bawah Presiden Anwar Sadat dan ditahan selama tiga bulan. Di sana dia menulis memoarnya di atas kertas toilet, menggunakan pensil alis yang diselundupkan kepadanya oleh seorang pekerja seks yang dipenjara.
Setelah Presiden Sadat dibunuh, El Saadawi dibebaskan. Tapi karyanya disensor dan buku-bukunya dilarang terbit dan beredar.
Beberapa karyanya yang diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia selain Perempuan di Titik Nol adalah Perempuan Dalam Budaya Patriarki, Wajah Telanjang Perempuan, Matinya Seorang Mantan Menteri, Catatan dari Penjara Perempuan, Tak Ada Tempat Bagi Perempuan di Surga, dan Zeina. (BBC/Egyptian Streets, Reza Maulana Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi