Selamat Jalan Abdillah Muchsin, Mantan Wing Back NIAC Mitra dan Mitra Surabaya

waktu baca 3 menit
Abdillah Muchsin

SURABAYA – KEMPALAN: Kabar duka kembali datang. Tidak disangka-sangka, Abdillah Muchsin, mantan wing back (bek sayap) kanan NIAC Mitra dan Mitra Surabaya di era tahun 1990-an, dikabarkan meninggal dunia, Rabu, 17 Maret 2021.

Berita duka itu tersebar melalui pesan WhatsApp. Di antaranya di grup Cowas JP. Namun, kabar itu tidak segera ditanggapi, karena beberapa waktu lalu ada yang mengaku sempat bertemu dengan Abdillah Muchsin.

“Dua minggu lalu saya sempat bertemu Dillah. Malah, dia mengutarakan maksudnya untuk reuni dengan teman-teman pracetak Jawa Pos,” kata Agus Sarianto, sahabat dekat Abdillah Muchsin saat jadi pemain NIAC Mitra dan Mitra Surabaya hingga kerja di Jawa Pos.

Karena itu, Agus Sarianto sempat tidak percaya kalau Dillah dikabarkan meninggal dunia. Dia baru percaya setelah dapat kabar dari M.Zein Alhadad. “Malah, menurut Mamak Alhadad, dia (Dillah) sudah empat hari lalu meninggal dunia. Tepatnya sejak 13 Maret 2021,” terang Agus.

Kabar yang didapat, Dillah meninggal karena sakit maag akut. Dia meninggal di rumah saudaranya di daerah Sepanjang, Sidoarjo. “Selama ini dia lebih banyak tinggal di Palu. Ada pekerjaan di sana bersama Budi Aswin, mantan pemain NIAC Mitra,” kata Agus.

Abdillah Muchsin memang berasal dari Palu. Bahkan, ketika diajak M.Basri bergabung dengan NIAC Mitra pada tahun 1985, ia berstatus sebagai pemain Palu Putra. Kala itu usianya sekitar 20-21 tahun.
“Dia (Dillah) diajak Om Basri gabung NIAC Mitra bersama pemain Palu Putra lainnya, Rauf Haci,” kata Hanafing, mantan pemain NIAC Mitra yang lebih senior dibanding Dillah.

Tapi, waktu itu Abdillah Muchsin belum jadi pemain inti. Dia lebih banyak duduk di bangku cadangan. Baru setelah NIAC Mitra bubar pada tahun 1990, dia menjadi pemain inti dengan posisi wing back kanan di Mitra Surabaya.

“Itu pun tidak lama. Hanya setahun. Karena setelah itu ia menyatakan gantung sepatu karena ingin fokus bekerja di Jawa Pos,” kata Hanafing yang kala itu dipercaya Dahlan Iskan, owner Jawa Pos, untuk mengkoordinir para pemain NIAC Mitra untuk bertahan di Mitra Surabaya.

“Karena itu permintaan mereka, ya saya tidak bisa nggandoli,” sambung Hanafing.

Posisi Abdillah Muchsin akhirnya ditempati Rahmat Darmawan. Di Jawa Pos, Abdillah Muchsin ditempatkan sebagai tenaga pracetak. Dia menyiapkan foto-foto yang akan dimuat bersama Agus Sarianto dan Nanang Kushardiyanto, yang juga ikut mengundurkan diri. “Sejak itu saya jarang ketemu dengan Dillah,” ungkap Hanafing.

Dia terakhir bertemu dengan Dillah pada akhir Desember 2021 di Palu. Waktu itu kondisinya baik-baik saja. Karena itu, Hanafing mengaku sangat terkejut ketika dapat kabar kalau Dillah meninggal dunia di Sepanjang, Sidoarjo.

“Siapa yang nggak terkejut. Dia kan tinggalnya di Palu, kok meninggal di Sepanjang. Tapi, rupanya itu sudah kehendak Allah,” kata Hanafing yang kini berprofesi sebagai instruktur pelatih sepakbola ini.

Dia pun hanya bisa mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un. “Selamat jalan sahabat. Semoga husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan iman,” pungkas eks pemain langganan Timnas Indonesia di era tahun 1990-an ini. (Dwi Arifin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *