RIYADH-KEMPALAN: Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa pelaku pembunuhan Jamal Khashoggi juga menggunakan pesawat yang dibeli dari dana yang dikumpulkan oleh Public Investment Fund of Saudi Arabia (Dana Investasi Publik Arab Saudi/PIF).
Melansir Insider, dana itu sendiri dikumpulkan dari sejumlah perusahaan Amerika Serikat yang berinvestasi di negara Timur Tengah itu. Dana ini dikumpulkan ketika Pangeran Mohammed bin Salman mengunjungi Amerika Serikat pada tahun 2018, beberapa bulan sebelum pembunuhan Jamal Khashoggi.
Di Amerika Serikat, ia bertemu dengan sejumlah konglomerat dan elit bisnis seperti Rupert Murdoch, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Oprah Winfrey dan banyak orang lainnya. Dari sinilah ia mengumpulkan dana investasi sebesar $400 milyar dalam asetnya dan diharapkan akan tumbun hingga dua trilyun dolar AS.
Tidak lama setelah pengumpulan dana itu, dua pesawat yang dimiliki oleh pengelola dana itu menerbangkan dua tim pembunuh dari Riyadh ke Istanbul untuk melakukan operasi pembunuhan Jamal Khashiggi di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki.
Penggunaan pesawat yang merupakan aset PIF ini dibuka dalam dokumen pengadilan yang diajukan di Kanada sebagai bagian dari gugatan penggelapan yang diajukan oleh sejumlah perusahaan milik negara Saudi terhadap Saad Aljabri, mantan pejabat tinggi intelijen Saudi, yang sekarang berada dalam pengasingan dan mengaku bahwa Pangeran Mohammed bin Salman berupaya mengirim tim pembunuh untuk membunuhnya setelah kasus Jamal Khashoggi.
Sky Prime Aviation, penyedia jasa penerbangan privat di Arab Saudi dipindahkan ke PIF pada 22 Desember 2017. Kedua jet Gulfstream yang dimiliki oleh Sky Prime Aviation digunakan oleh para pembunuh Khashoggi untuk masuk dan keluar dari Istanbul kurang dari satu tahun pengalihan Sky Prime Aviation ke PIF.
Meskipun peran aset PIF tidak disebutkan dalam laporan ODNI atau pengumuman sanksi, peran Pangeran Mohammed bin Salman, putra mahkota Arab Saudi, sebagai ketua PIF dan penggunaan aset PIF – dua jet Gulfstream – menimbulkan pertanyaan tentang keterlibatan dana tersebut dalam pembunuhan itu dan pengetahuan dari jajaran eksekutif PIF lainnya tentang operasi penculikan atau pembunuhan Khashoggi.
PIF sendiri tidak memberikan komentar atau tanggapan berkaitan dengan penggunaan pesawatnya dalam pembunuhan Jamal Khashoggi. Sementara Sky Prime Aviation sendiri mengambil tindakan untuk membatasi data yang dapat diakses publik berkenaan dengan aktiviras penerbangan yang sedang berlangsung dari pesawat yang digunakan dalam operasi pembunuhan Khashoggi.
Namun, hubungan PIF dan Pangeran Mohammed bin Salman dengan Amerika Serikat masih berjalan tanpa ada pembatasan atau konsekuensi akibat pembunuhan tersebut, meskipun Joe Biden nampaknya memang berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan hak asasi manusia.
Kata Pejabat AS tentang Laporan Pembunuhan Jamal Khashoggi
Pejabat AS pada masa pembunuhan Jamal Khashoggi, Kirsten Fontenrose mengatakan bahwa laporan intelijen tahun 2018 mengenai tindak pembunuhan itu (yang menjadi landasan bagi laporan tahun 2021) adalah sebuah penyalahgunaan kekuatan intelijen.
Baginya, yang pada saat pembunuhan itu menjadi direktur senior untuk permasalahan Teluk di Dewan Keamanan Nasional, mengatakan bahwa laporan itu tidak didasarkan bukti apapun. Eli Lake yang merupakan kolumnis Bloomberg mengatakan kepada The Lancet bahwa Fontenrose menyatakan kekhawatirannya akan laporan itu kepadanya.
Ia menuliskan bahwa Fontenrose sangat khawatir ketika memperingatkan CIA jika laporan itu dimasukkan dalam briefing intelijen, dirinya akan melampirkan memo yang berisikan peringatan: ‘ini adalah (informasi) intelijen yang didasarkan pada anggapan dan triangulasi serta digunakan untuk memaksa tangan anda (memaksa anda bertindak).’
Setelah perdebatan Fontenrose dengan CIA, badan tersebut kemudian menghasilkan versi lain dari laporan itu yang bersifat tidak serahasia sebelumnya sehingga dimungkinkan untuk menyebarluaskannya.
“Hal itu berarti bahwa setiap penasihat keamanan nasional senior di tempat itu sekarang memiliki akses ke sana,” ujar Fontenrose. Ia juga menambahkan bahwa CIA merilisnya pada hari Kongres kembali pada pembahasan itu, karena semua anggotanya akan kembali dari rehat dan laporan itu akan menyebabkan kegemparan.
Fontenrose juga mengatakan kepada Lake bahwa dokumen yang telah dibuka bulan lalu itu bahasanya sangat sama dengan laporan rahasia yang ada di mejanya pada tahun 2018. “Satu-satunya bagian (dari laporan) ini yang dengan kepercayaan tinggi (penilaian atas dasar informasi berkualitas) adalah paragraf terakhirnya,” ujar pejabat AS itu.
Adapun Lake menambahkan bahwa cerita Jamal Khashoggi bagi pemerintah AS adalah “permainan moralitas tentang politisasi intelijen,” yang mana “komunitas intelijen berusaha untuk menggambarkan anggapannya sebagai fakta, yang didorong oleh pers yang menganggap dirinya terlibat dalam perjuangan kosmik antara kebaikan dan kejahatan” dengan Presiden Donald Trump saat pembunuhan itu terjadi.
Laporan mengenai pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post yang terjadi di Konsulat Arab Saudi di Turki membuat polemik berkepanjangan karena melibatkan penguasa de facto kerajaan itu, Pangeran Mohammed bin Salman yang dalam laporan intelijen 2021 disebutkan memberi restu terhadap pembunuhan wartawan itu.
Meskipun namanya tercatut dalam kasus ini, namun Amerika Serikat tidak memberikan sanksi apapun kepada Menteri Pertahanan Arab Saudi itu, hanya kepada nama lain yang terlibat di dalam kasus internasional itu. (Ashard Al-Awsat/Insider, Reza Maulana Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi