Properti Serpong yang Melesat, Bakal Ditopang Tol Cinere-Serpong dan Kunciran-Bandara Soetta

waktu baca 4 menit
Gemerlap kawasan komersial, menara perkantoran, apartemen, mal hingga kampus di Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan. Sumber foto-foto: Skycrapercity Tangerang Selatan.

KEMPALAN: Jangan bayangkan Serpong–nama kecamatan di Kota Tangerang Selatan–era 1980-an, seperti Serpong saat ini. Tahun 1980, kawasan Serpong masih hutan karet. Dianggap jauh dari Ibu Kota Jakarta saat itu. Pemerintahan Soeharto kemudian merencanakannya menjadi sebuah kawasan perumahan sederhana. Grup Ciputra sempat masuk di sana, yang kemudian diambilalih oleh Sinarmas Land ketika krisis moneter 1998 terjadi.

Sinarmas Land melalui proyek Bumi Serpong Damai (BSD City) di sana menggarapnya dengan sangat serius. BSD City pun hingga saat ini menjadi tumpuan penghasilan Sinarmas Land. Lima puluh persen lebih penghasilan Sinarmas Land berasal dari township atau kota mandiri BSD City. Proyek-proyek kota mandiri Sinarmas Land lainnya, seperti Grand Wisata, Kota Wisata, Banjar Wijaya, kalau jauh kontribusinya terhadap pendapatan korporasi properti tbk terbesar di Tanah Air ini. Luas lahan BSD memang tak main-main: 6000 ha, dan masih menyisakan 2000-an ha lagi untuk digarap.

Kawasan seputaran mall Jepang, Aeon Mall di BSD City. Di dekatnya ada gedung konvensi ICE BSD yang terbesar di Indonesia.

Saat ini lahan BSD sejatinya tidak sepenuhnya berada di Serpong, Kota Tangerang Selatan. Banyak area BSD City yang sudah masuk wilayah Kabupaten Tangerang. Kelak, pengembangan lahan BSD City bahkan akan tembus hingga ke Bogor. KTP atau sertifikat tanahnya bukan lagi Kecamatan Serpong. Kecamatan Serpong yang karena luasnya area administrasi pemerintahan, namun berkembang sangat pesat kawasannya, akhirnya dipecah dua menjadi Kecamatan Serpong dan Kecamatan Serpong Utara oleh Wali Kota Tangsel waktu itu, Airin Rachmi Diany.

Perkembangan pesat BSD City sangat kasat mata. Pusat ritel berkonsep power center QBig BSD City, Indonesian Convention & Exhibition (ICE) Center BSD, kampus Prasetiya Mulya, kampus Universitas Katolik Atma Jaya, kantor pusat Unilever, outdoor lifestyle mall The Breeze, hingga Aoen Mall dari Negeri Matahari Terbit adalah di antara sebagian fasilitas yang belum ada di BSD lima belas tahun silam. Tahun 2006, pusat belanja andalan di BSD baru ITC BSD. Bisa dibayangkan.

Pertumbuhan pesat juga terlihat di Summarecon Gading Serpong. Ada kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) hingga Summarecon Mal Serpong di sini.

Namun, pengembangan properti yang pesat di Barat dan Selatan Jakarta ini sejatinya tak hanya ditopang BSD City. Kota Tangerang Selatan yang 70 persen wilayahnya dikuasai developer properti dan sebagian Kabupaten Tangerang serta sebagian Kota Tangerang itu, juga memiliki township Bintaro Jaya (2000 ha), Alam Sutera (800 ha), dan Summarecon Serpong (800 ha).

Perkembangannya boleh dibilang sama pesatnya dengan BSD City. Berbeda dengan 15 tahun silam, Bintaro Jaya kini RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya, RS Premier, dan RS Mitra Keluarga. Beraneka hotel dan apartemen juga bertebaran di kawasan itu. Pusat belanja Bintaro Xchange kini juga tengah diperluas. PT Jaya Real Property Tbk pengembangnya, mau membuat akuarium ikan ala Sea World di dalam mal itu. Walaupun perluasannya sempat disayangkan sejumlah penggemar ruang terbuka hijau, karena menghabisi taman-taman dan ruang terbuka hijau yang masih tersisa di sana. Universitas Pembangunan Jaya juga ada di Bintaro Jaya. Di ujung Bintaro Jaya, ada Graha Raya Bintaro Jaya (350 ha), unit properti Jaya.

Ada kantor pusat Unilever dan BCA yang megah di BSD City.

Sementara itu, dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, Alam Sutera ketambahan Mall Alam Sutera, Mall Living Word, kampus Binus, Universitas Bunda Mulia, dan Swiss German University—pindahan dari BSD–beberapa menara perkantoran hingga kompleks pusat kuliner Flavor Bliss.

Tak jauh beda, Summarecon Serpong dan Paramount Serpong kini dikelilingi oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Summarecon Mall Serpong, Summarecon Digital Center, dan beraneka pusat komersial, perkantoran, dan bisnis.

Foresta Business Park di BSD City. Banyak lot komersial skala besar sudah berhasil dijual Sinarmas Land di sini.

Kini, di era Presiden Joko Widodo, perkembangan Serpong dan sekitarnya kian diperkuat oleh keberadaan jalan tol. Seperti jalan tol Serpong-Kunciran (Alam Sutera) yang baru beroperasi pada akhir 2020 lalu. Di tiga bulan pertama tahun 2021, pembangunan ruas tol Kunciran (Alam Sutera)-Cengkareng (Bandara Soekarno Hatta) dan tol Serpong-Cinere (Depok) juga nyaris selesai. Progress konstruksi kedua ruas tol ini rata-rata sudah mencapai 90 persen. Hampir pasti tahun ini akan operasional. Busway layang Transjakarta koridor 13 juga sudah sampai di Ciledug, perbatasan Kota Tangerang-Jakarta dekat Graha Raya Bintaro Jaya. Transjakarta koridor 13 tersebut terselesaikan di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Ini belum ditambah dengan rencana MRT (Mass Rapid Transport) Jakarta yang kelak akan sampai Serpong. Walaupun entah berapa tahun lagi…Yang pasti bukan di zaman Jokowi. (Freddy Mutiara—redaksi kempalan.com dan dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UBAYA)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *