SURABAYA-KEMPALAN: Pecinta sepakbola tanah air di 1980 hingga 2000-an pasti tak asing dengan nama Muhammad Zein Alhadad. Mantan striker klub Galatama Niac Mitra dan langganan Timnas ini sekarang belum menangani klub profesional, selepas dipercaya melatih Persida Sidoarjo di Liga 2 tahun 2017.
“Sebenarnya ada beberapa klub yang menawari, tapi saya masih kurang pas,” aku pria keturunan Arab yang akrab disapa “Mamak” ini ketika ditemui di rumahnya di kawasan Ampel. Tepatnya di Jalan Kalimas Udik, Surabaya Utara.
Untuk mengisi waktu luangnya itu, Mamak memperbanyak silaturahmi dengan kerabatnya, baik yang ada di Surabaya maupun luar kota, seperti Sidoarjo, Pasuruan, Malang dan Jakarta.
Dia juga membantu melatih kesebelasan Polres Probolinggo pada tahun 2018 hingga 2019. Kemudian kesebelasan Polres Madiun pada tahun 2020. “Saya diajak Pak Eddwi (Eddwi Kurnianto),” aku Mamak.
Kebetulan AKBP Eddwi Kurnianto kala itu menjabat Kapolres Probolinggo dan kemudian pindah tugas menjadi Kapolres Madiun. Namun, sekarang Eddwi Kurnianto pindah tugas ke Aceh. Di Tanah Rencong ini Eddwi menjabat Wadir Polda Aceh.
Selain itu, sejak awal 2020 lalu, Mamak yang lahir 9 September 1961 di Surabaya juga punya kesibukan lain. Dia aktif menggelar acara pengajian di rumahnya, yang merupakan peninggalan orangtuanya, Habib Zein bin Husin Alhadad dan Syarifah Elok Al-Djupri. Keduanya sudah wafat.
Dalam sebulan, dua kali Mamak menggelar acara pengajian. Yakni pada minggu pertama dan minggu terakhir. Pengajian dimulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.
Untuk pemberi tausiah, Mamak sengaja mendatangkan Ustad Muhammad Barakbah, yang berasal dari Surabaya tapi kini menetap di Sidoarjo.
Menurut Mamak, selain memupuk tali silaturahmi dengan berkumpul bersama kerabat, teman sekolah dan para mantan pemain sepakbola, pengajian tersebut dimaksudkan untuk melanjutkan tradisi kedua orangtuanya, Habib Zein bin Husin Alhadad dan Syarifah Elok Al-Djupri.
“Sekalian mendoakan orangtua saya yang sudah almarhum. Mereka kan senang kalau rumahnya sering dipakai pengajian. Biar tambah berkah,” katanya.
Semasa hidup, ayah Mamak, Habib Zein bin Husin Alhadad dikenal sebagai ulama yang cukup populer di kawasan Ampel. Beberapa pejabat penting, seperti mantan Gubernur Imam Utomo dan mantan Pangdam V/Brawijaya Ryamizard Ryacudu pernah bersilaturahmi ke rumahnya.
Habib Zein bin Husin Alhadad sendiri disebut-sebut masih ada garis keturunan dengan Rasulullah Muhammad SAW. Yaitu dari silsilah Husin, cucu Rasulullah dari Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.
Husin punya saudara kembar bernama Hasan. Silsilah itu terpampang dalam pigura yang dipajang di tembok ruang tamu.

Tak heran jika setiap acara Haul Akbar Habib Zein bin Husin Alhadad, jamaah yang hadir selalu membludak. Mereka tidak hanya datang dari Surabaya, tapi banyak pula yang dari luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Di antaranya dari Hadramaut, Yaman, negara asal kakek-buyut Habib Zein bin Husin Alhadad.
“Haul Akbar biasanya digelar tiap tahun. Tapi sejak Pandemi Covid-19, acara haul untuk sementara ditiadakan,” ujar Mamak. Menurutnya, langkah ini untuk mendukung pemerintah yang berupaya keras mengatasi penyebaran Covid-19 di tanah air.
Beberapa mantan pemain Persebaya dan Niac Mitra tampak aktif mengikuti acara pengajian ini. Antara lain Yusuf Ekodono, Seger Sutrisno, Winarno, Eddy Santoso, Yusman Mulyono, Hambali dan Arifin.
Selain mendengarkan tausiah, para peserta pengajian dijamu makan dan minum oleh Mamak Alhadad dengan hidangan khas Arab.
“Alhamdulillah, semoga barokah. Selain menjalin tali silaturahmi, saya banyak mendapat banyak manfaat dari pengajian ini,” kata Yusuf Ekodono.
Legenda Persebaya ini pada masa jayanya di era 1990-an selalu menjadi langganan Timnas. Di antaranya pada SEA Games 1991 di Manila. Kala itu Indonesia merebut medali emas setelah mengalahkan Thailand di final lewat adu penalti.
Mamak Alhadad sendiri tak kalah moncernya. Saat masih aktif bermain, dia dikenal sebagai striker haus gol.
Tiga kali ia membawa Niac Mitra meraih gelar juara sepanjang 1979-1989. Yakni juara kompetisi Galatama 1980/1981, 1982/1983 dan 1987/1988.
Mamak juga ikut membela Niac Mitra saat membekuk Arsenal dalam laga uji coba di Stadion Gelora 10 November Surabaya pada 1983 dengan skor 2-0.
Usai memutuskan pensiun pada 1991, Mamak Alhadad mengikuti kursus kepelatihan.
Berbekal sertifikat yang dimiliki, ia kemudian malang melintang sebagai pelatih di kancah sepakbola nasional.
Di antaranya adalah sebagai pelatih Deltras Sidoarjo (2008/09) dan Persija Jakarta (2016).
Berkat tangan dinginnya, Mamak berhasil membawa Deltras menempati peringkat ketiga dalam gelaran Copa Indonesia 2009. Padahal, materi pemain The Lobster terbilang pas-pasan. Atas prestasinya itu, Mamak kemudian dinobatkan sebagai Best Coach. (*)
Peliput : Dwi Arifin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi