KEMPALAN: “Mbok jane Sarmo dijodohke karo Sumi cocok ya?” ucap Lik Marto suatu sore di rumahnya.
“Lha kamu kesusu menjodohkan dengan Narni anake Slamet.”
“Lho waktu itu kan Sumi memang mung pelayan toko, nggak jelas bapake. Anake Slamet kan jelas bobot bebet bibit. Eman-eman daripada dipek wong liya kan mending kita jodohkan dengan Sarmo.”
“Ya itu lihat manusia cuma dari kayanya saja. Sarmo itu sudah besar, punya perasaan. Dia kan anak yang nurut, mana berani melawan bapaknya.”
“Ya nggak nyangka Sumi bakal jadi pemilik toko.”
“Belum tentu Sumi sekarang mau sama Sarmo. Dia sakit hati dengan tuduhanmu yang aneh-aneh itu.”
“Aku lho nggak nuduh.”
“Ya tapi itu menyakitkan pakne…”.
“Ya siapa tahu Sumi masih mau menerima Sarmo.”
“Tapi nggak enak sama adikmu Slamet. Ngomong kok mencla-mencle. “
*
Sarmo menerima kabar kawinnya Sumi dengan hati pedih. Sarmo tahu kalau Sumi pasti menjalaninya dengan tidak sepenuh hati. Bisa saja fisik Sumi berdekatan dengan Pak Jarwo, tapi hatinya mungkin sekali berjauhan. Pernikahan bisa jadi hanya persoalan bukti formal surat menyurat. Cinta sejati jauh dari urusan kertas bercap dan bertanda tangan, cinta sejati bukan di KUA tapi di lubuk hati. Sarmo tahu bagaimana Sumi. Namun pepatah jawa bisa juga benar : witing tresna jalaran saka kulina. Pak Jarwo mungkin tahu dari pengalaman hidupnya sehingga dia berbisik : ‘aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu agar cinta datang karena telah terbiasa’.
*
Dipo makin tidak terima setelah tahu ternyata Sumi tidak hamil. Terlalu besar imbalan yang didapat Sumi. Suatu ketika dia ngomong ke bapaknya
“Enak ya Sumi, bukan siapa-siapa dapat rumah sama toko..”
“Ya dia yang merawat bapakmu. Kau bapak kasih tabungan. Silakan kalau mau buka toko. Jangan ngriwuki bapak dan Sumi.”
Dipo diam mendengar bapaknya yang selalu membela Sumi. Dipo ingat ibunya yang harus terpisah dari keluarga. Tapi semua karena salahnya dan juga salah bapaknya. Dipo semakin dekat waktu lulusnya.
*
Sindhu terseok-seok dengan kuliahnya. Perhatian Silvy pun hilang. Ada orang lain yang lebih perhatian ke Silvy daripada Sindhu. Sindhu mulai kehilangan semangat belajar dan bahkan semangat hidup. Sementara Sumi bilang ia masih seperti Sumi yang dulu, Sindhu bukan lagi Sindhu yang dulu. Dia kini seperti mencari jati diri. Tidak seterbuka dulu. Dia jadi rajin membaca kitab-kitab tulisan al Ghazali yang mengajarkan kepasrahan. Dia juga mulai ikut pengajian thariqat. Seminggu sekali dia ikut kegiatan thariqat di mesjid di dekat gurunya dengan dipenuhi membaca dzikir. Dunia mulai tidak penting bagi Sindhu. Dia selalu mencari Tuhan dan mencoba mendekatkan diri pada Tuhan. Hal-hal yang sifatnya kemanusiaan dan keduniawian dia tinggalkan.
“Mana Sindhu kok semester ini tidak perwalian?” tanya dosen walinya kepada salah seorang temannya suatu kali.
“Wah dia mulai sulit ditemui Pak. Nggak tahu kemana pak. Mulai tertutup.”
Orang tua Sindhu pun ikut resah dengan perubahan sikap anaknya. Jarang pulang kalau libur.Ibunya Sindhu hanya bisa berdoa agar anaknya itu bisa normal kembali seperti dulu. Suatu saat ib Sindhu datang ke oramg pintar untuk menanyakan nasib anaknya itu.
“Dia akan normal lagi sesudah 2 tahun bu”, kata orang pintar itu.
Sedih hati ibu Sindhu. Dua tahun hanya akan diisi dengan kegiatan yang menurut dirinya kurang berfaedah. Sementara banyak hal yang bisa dikerjakan. Mengapa Tuhan harus dicari dengan cara seperti itu. Tuhan ada dimana-mana: di meja belajar, di ruang kuliah, di kamar mandi, di tengah pasar dan bahkan di tempat pelacuran.Mestinya belajar thariqat tidak menghilangkan kemanusiaannya. Tidak menghilangkan silaturahminya, tidak menjauhkannya dari urusan dunia. Tapi Sindhu sepertinya terlalu ekstrim perubahannya. Ibu Sindhu berdoa anaknya akan belajar dari proses hidupnya yang tidak mulus.
Jelas Sumiati bukan lagi jadi pikiran Sindhu. Tapi di dasar lubuk hatinya, Sumi masih merindukan Sindhu. Sumi berharap suatu saat Sindhu bisa membuat gambar rancangan rumah yang besar yang nyaman untuk tempat tinggalnya. Sarmo dulu pernah mau membuatkan rumah besar tapi rasanya bukan seperti itu yang diinginkan Sumi. Sumi ingin rumah yang dibangunnya sendiri dengan arsitektur yang khas Jawa artistik dengan kebun yang luas hijau menghadap ke lereng Gunung Merbabu dari arah Boyolali. Sumi tidak membayangkan bahwa Sindhu sedang menghilang, jauh dari kawasan kampus. Suratnya pun tidak pernah dibalas Sindhu.
*
“Mbok jadi bapak itu bukan bapakku?”
“Iya nduk ..bukan. Maafkan mbokmu nduk nggak berterus terang selama ini. Aku kasihan kamu”, ucap mbok Kartiyem sambil meneteskan air mata mengenang bagaimana dia harus pulang dari rumah tuang Shanghai.
“Lalu bapakku siapa mbok?”
“Itu laki-laki yang pernah memberimu uang beberapa tahun lalu saat kamu mengantar Sarmo.”
“Dia baik mbok.”
“Iya dia baik. Tapi istrinya tidak mau terima dia punya anak dengan pembantunya.”
Sumi merasakan kemirisan yang hampir mirip. Untung dia nggak sampai hamil dan untung tuannya mau mengangkatnya jadi istri resmi. Walaupun lebih mirip seperti anaknya yang harus merawat bapaknya.
“Mbok apa aku boleh ketemu bapak kandungku?”
“Boleh. Tapi kamu harus hati-hati . jangan sampai menimbulkan keributan.”
“Aku cuma pingin dengar saja bahwa bapakku mengakui aku sebagai darah dagingnya.”
“Iya pasti dia akan mengatakannya. Tapi jalan hidupmu sepertinya sudah cukup adil nduk, cukup adil bagimu untuk mengenyam kebahagiaan. Walaupun belum sempurna. Nasibmu lebih baik dari nasib simbok nduk. Ingat bahwa kebahagiaan sempurna sangat sulit didapat, kecuali kau singkirkan sebagian ego dan nafsumu.”
Sumi mengiyakan kata-kata mboknya. Dia heran simboknya bicara bak seorang filsuf. Entah dapat wangsit darimana seorang tukang pasir bisa berkata bijak seperti itu. Mungkin tidak ada kebahagiaan sempurna yang dinikmati seorang manusia dalam jangka waktu lama. Kebahagiaan selalu datang sekejap, lalu menjadi biasa dan kadang ada selingan derita. Lalu beralih ke bahagia lagi. Itu pun juga tergantung kita menikmatinya. Saat dia mendapatkan toko, dia merasa sangat bahagia. Tetapi setelah tiap hari menjadi pemilik toko, semua terasa sebegai hal biasa. Lalu ketika suratnya untuk Sindhu tidak berbalas, ada sedikit derita di sana. Tapi lama-lama menjadi biasa. Kemudian kebahagiaannya sedikit terganggu jika ia mengingat Bu Jarwo harus berpisah dengan suaminya. Betapa dunia tidak ideal, tidak sempurna. Tuhan selalu punya cara untuk membuat sinetron yang tidak terduga.
Sumi meski sibuk mengelola toko , dia rindu jalan-jalan bersama Sindhu seperti dulu. Atau dia ingin berenang bersama Sarmo di Umbul Ingas, Cokro. Hari-harinya kini dipenuhi dengan mencari uang dan merawat suaminya yang sakit-sakitan. Hal yang dirasakan lebih baik adalah bahwa dia bisa melihat simbok dan bapak tirinya tidak harus bekerja banting tulang mencari pasir di sungai belakang rumah.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi