Gelar Akademik vs Produktivitas

waktu baca 4 menit

KEMPALAN: Baru-baru ini seorang profesor kembali mengeluarkan pernyataan yang dianggap oleh publik sebagai sikap merendahkan pada kaum yang “kurang pendidikan”. Yang pertama dulu ketika dia menyerang Rocky Gerung di sebuah acara televisi dengan ejekan “bukan professor beneran”. Kali ini yang kena serempet adalah mantan menteri Susi Pudjiastuti. Susi dikatakan sebagai “orang yang sekolah gak selesai tapi melambung karirnya dan untung perusahaannya.”

Pertama, saya ingin membahas sosok Bu Susi ini. Selama beberapa tahun ketika saya masih aktif sebagai pelatih jurnalistik atau literasi, saya sering berkunjung ke tempat-tempat yang jauh yang hanya bisa dijangkau oleh Susi Air. Pada waktu itu saya sudah mikir “Siapa ya si Susi ini?” Meski tiketnya sangat mahal kalau dihitung jarak kilometernya, namun orang tidak keberatan karena sangat membutuhkan transportasi itu. Boleh dikata, Susi hadir di wilayah-wilayah dimana negara dan perusahaan penerbangan besar ridak hadir.

Dari sini saja sudah dapat kita ketahui bahwa Susi Pudjiastuti adalah perempuan pengusaha yang sudah sukses jauh sebelum masuk kabinet Jokowi. Selain penerbangan swastanya di tempat terjauh dan terpencil, dia juga eksportir hasil laut yang sangat dipercaya para konsumen luar negeri. Ketika tiba-tiba namanya masuk jajaran menteri kabinet, saya sudah punya insting bahwa pasti bukan karena Susi melamar atau minta jadi menteri, melainkan sebaliknya, karena sumbangannya yang besar pada partai pemenang, dan mungkin masih terus diharapkan sumbangannya. Itu sebabnya dia diajak masuk ke kabinet. Dia ditempatkan di posisi yang sangat dia kuasai.

Meski mula-mula kita jengah ada perempuan bertato tidak tamat SMP jadi menteri, lama-lama kita menyaksikan bahwa dia kompeten. Berapa kali kita melihat kapal-kapal asing ditenggelamkan dan pencuri-pencuri ikan diusir dari perairan Indonesia. Kita mulai mencintai perempuan nyentrik yang suka berdansa dan tangguh adu berenang lawan lelaki muda sehat Sandiaga Uno.

Kedua, berkaitan dengan sosok mantan menteri yang saya gambarkan dan sudah dikenali seluruh rakyat Indonesia, cuwitan yang merendahkan tingkat pendidikan seseorang itu menjadi tidak relevan, bahkan lucu. Sangat terbukti bahwa tak tamat sekolahpun, Susi bisa mengelola perusahaan yang sangat sukses dan bisa memimpin kementrian tanpa cacat berarti (bandingkan dengan era penggantinya, yang belum setahun sudah kena kasus korupsi.

Berbicara tentang pendidikan, menurut saya agak terbelakang bila orang masih menilai kualitas seseorang dari pangkat, gelar, dan jabatan akademiknya. Fakta-fata membuktikan, ada ribuan orang tak berijazah yang hidupnya sukses, dan ada ribuan lulusan pendidikan tinggi masih kesana kemari bawa ijazah melamar-lamar pekerjaan. Lembaga-lembaga pendidikan formal itu tidak menjamin apa-apa selain memberimu ijazah, dan nilai-nilai pelajaran/mata kuliah. Yang benar-benar mengajarimu adalah kehidupan, lingkungan sekitar, dan interaksimu dengan masyarakat.

Filsuf dan intelektual Ivan Illich menyoroti apa yang disebutnya counter-productivity dan diseconomy atas kesalahan-kesalahan pelaksanaan yang menyebabkan tujuan awal tidak tercapai. Teorinya yang paling sering dikutip para pengamat pendidikan adalah “deschooling society”. Kritik tajamnya terhadap lembaga pendidikan pernah kita kenal dengan ungkapan yang lain, “menara gading”, yaitu bangunan megah semacam sekolah atau kampus yang orang-orangnya tidak bisa berbaur dan berproduksi di dunia nyata. Konsep ini kemudian berkembang menjadi trend “home-schooling”, mulai di kalangan bangsawan atau orang kaya di Barat, sampai ke keluarga sederhana di Indonesia. Anak tak usah disekolahkan, diajari di rumah saja. Rumah adalah madrasah terbaik bagi anak-anak. Orang kaya mengundang guru ke rumah. Orang biasa mengajari sendiri anak-anaknya. Ketidakperluan lembaga sekolah terbukti dalam sosok Susi Pudjiastuti, satu di antara sekian ribu orang sukses tanpa pendidikan formal.

Illich sendiri menyebut diseconomy sebagai ukuran tingkat kontra-produktivitas lembaga-lembaga formal. Dia memberi contoh ironi: industri medis malah menginduksi penyakit, dunia pendidikan malah mendorong kebodohan, dunia peradilan melanggengkan ketidakadilan. Contohnya tentang peningkatan peran lembaga pertahanan yang malah meningkatkan rasa tidak aman terjadi di masa ini di negara ini: ketika pemerintah membangun dan melatih angkatan kelima. Rakyat merasa tidak aman, merasa akan diperangi, dicurigai, akan menjadi sasaran. Jika diseconomy ini semakin meningkat, lembaga atau industri akan semakin kontraproduktif dengan (dan meleset dari) tujuan aslinya.

Butir ketiga saya adalah merangkum tentang sosok yang “direndahkan” karena kurangnya “pendidikan formal”nya dengan konsep Ivan Illich tentang diseconomy dan counter-productivity dari lembaga-lembaga formal. Kesimpulannya, mari kita buka mata, telinga, hati, dan pikiran. Orang yang lebih rendah dalam pendidikan dibanding dirimu, mungkin lebih tinggi produktvitasnya dibanding kamu. Sebaliknya, orang yang disanjung-sanjung karena berbagai gelar dan pangkat akademiknya, mungkin tidak produktif dan kreatif. Tujuan awal melatih para influencer (=buzzer) misalnya, adalah meyakinkan khalayak tentang hebatnya presiden – meskipun itu berarti membuat ratusan pegawai Kominfo yang sudah digaji sebagai Humas kehilangan job-nya sebagai jubir. Namun, tujuan itu menjadi meleset ketika para buzzer menyebarkan informasi yang mengandung kebencian, permusuhan, provokasi, memecah belah. Inilah yang dimaksud Illich sebagai kontra-produktif.

Sirikit Syah, Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *