“Mas Sindhu belum tahu rumahku. Kalau tahu mas Sindhu akan mundur teratur”.
Begitu salah satu isi balasan surat Sumiati untuk Sindhu di Bandung. Beberapa waktu lalu Sindhu menitip bungkusan berisi kaos dan surat untuk Sumi. Bungkusan dititip ke Bu Jarwo di Toko Ijo. Sangat ingin Sindhu mengajak Sumi jalan agar bisa ngobrol lebih enak. Tapi maksud itu belum terwujud karena Sindhu harus pergi ke Bandung.
“Mbak Sum, aku tertarik pada pandangan pertama waktu aku ke tokomu. Belum pernah kulihat wanita secantik kamu. Bahkan teman-teman sekolahku di SMA Klaten tidak ada yang menandingimu”.
Begitu baris-baris kalimat yang ditulis Sindhu.
“Kalau liburan aku pulang dan ingin mengajakmu jalan-jalan”.
Sumi aslinya tersanjung membaca rangkaian kata penuh bunga itu. Tapi dia harus hati-hati seperti kata mboknya. Mas Sindhu belum mengenal dia sesungguhnya. Mas Sindhu hanya melihat fisiknya.
“Mas Sindhu sekolah yang baik saja, jangan pikirkan Sumi. Sumi cuma penjaga toko, anak tukang pasir.”
Itu lanjutan balasan Sumi ke Sindhu. Sindhu kaget bahwa Sumi anak pencari pasir. Dia nggak nyangka ada orang secantik itu dari seorang pencari pasir. Sindhu masih kebayang sorot mata tajam Sumi yang menunjukkan kecerdasan serta kulit putih bersihnya. Sungguh pemandangan yang langka di sekitar Pasar Cokro.
” Mas Sindhu nanti di situ akan ketemu mojang Priangan yang cantik, persis Soekarno dulu ketemu bu Inggit.”
Sindhu makin kaget dengan wawasan Sumi yang tahu kisah asmara Bung Karno. Penjaga toko ternyata juga rajin membaca. Sindhu semakin mantap untuk serius dengan Sumi. Dia akan segera membalas surat Sumi lagi.
Pasar Cokro makin ramai. Sarmo masih sering membantu buka dan tutup Toko Ijo di pagi dan sore hari. Upah senyum Sumi sudah cukup bagi Sarmo. Sumi nggak sampai hati menceritakan hubungannya dengan Sindhu pada Sarmo. Sarmo teman terbaiknya. Segala hal dia ceritakan pada Sarmo. Tapi dia ingat kata-kata simboknya bahwa kalau kawin dengan Sarmo dia akan tetap miskin. Sumi nggak yakin dengan kata-kata itu. Dia yakin hubungan yang dilandasi cinta akan menumbuhkan energi luar biasa untuk maju. Iya ia yakin itu, meskipun jalannya tidak mudah. Dia simpan rahasia hubungannya dengan Sindhu karena semuanya belum jelas. Sarmo gimana pun adalah teman bercerita yang baik.
*
Kartiyem mulai hamil. Sepertinya Sumi akan punya adik. Senang perasaan Sumi. Dia akan punya teman main di rumah meski jarak umurnya hampir 20 tahun. Kartiyem mulai mengurangi kegiatan membantu suaminya mencari pasir. Tentu saja hasil penjualan pasir juga berkurang. Dia sering dapat bonus dari bu Jarwo karena penjualan toko ijo yang makin bagus apalagi saat bulan ruah dan puasa, tokonya ikut ramai.
Lumayan dia bisa bantu untuk kebutuhan rumahnya.
Mas Dipo sejak nonton film di bioskop Delanggu itu jadi sikapnya agak beda. Sepertinya justru malu nongol di toko. Jarang pulang ke Cokro, kalau pulang jarang ke toko. Mungkin juga kuliahnya mulai sibuk. Sumi lebih senang jika mas Dipo tidak ke toko. Dia tidak harus berpura-pura melayani obrolan mas Dipo.
Sumi sesungguhnya juga menanggung beban berat. Dia merasakan ada pandangan Pak Jarwo yang kadang aneh ke dia. Suka nahan-nahan untuk tidak pulang dulu di sore menjelang maghrib. Saat-saat tutup toko, ketika bu Jarwo sudah pulang, pak Jarwo sering aneh. Minta dibantu ini itu. Sumi merasa khawatir. Hmm…tapi dia nggak mau berburuk sangka. Apalagi di akhir pekan Pak Jarwo suka memberi bonus jika penjualan meningkat. Bonus itu diberikan tanpa sepengetahuan bu Jarwo.
Cuma dia sering deg-degan kalau pak Jarwo jalan sambil menyenggolnya. Untuk yang itu Sumi tidak berani bercerita ke siapa pun, takut terjadi keributan. Dia pendam saja sambil berdoa. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi