Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 02:16 WIB
Surabaya
--°C

Pengakuan Sumiati

Di sebelah utara pasar, Pasar Cokro , Klaten, salah satu pusat ekonomi daerah itu, berdiri beberapa toko. Satu toko yang nampak paling laris, masyarakat menamakannya Toko Ijo karena warna pintu kayu dan dindingnya yang dominan warna hijau. Toko itu sangat terkenal di masyarakat Cokro dan sekitarnya. Hampir semua alat kebutuhan rumah tangga dijual di situ. Mulai gula, teh, sprei, sapu, pancing, baterei, senter hingga raket badminton ada. Depan toko itu adalah pertigaan jalan. Sisi kanan toko itu adalah pintu masuk ke pasar. Sisi kiri berbatasan dengan dinding toko lain yang berderet di sisi utara pasar itu.

Lokasi Pasar Cokro adalah bekas pabrik gula yang dulu sangat penting menumbuhkan ekonomi jaman penjajahan Belanda. Pabrik itu berdiri sekitar 1897. Namun saat Malaise 1930, pabrik gula itu tutup. Lalu bangunannya pun dihancurkan.

Namun sisa -sisa peninggalan pabrik gula dan fasilitasnya masih tetap bisa dinikmati. Ada kolam renang Bale Kambang yang dulu menjadi tempat berenang orang-orang Belanda. Di seberang Pabrik gula ada gedung besar tempat pertunjukkan kesenian sekaligus tempat olahraga yang hingga kini bisa dinikmati. Gedung itu sering menjadi tempat pertunjukan ketoprak keliling. Juga sering dijadikan tempat pertandingan badminton beberapa tahun belakang.

Sempat menjadi tempat pengumpulan tertuduh PKI pada tahun 65 dimana para tahanan ditampung sebelum dieksekusi atau dibawa ke penjara Klaten. Siang hari para tertuduh sering dijemur di halaman depan gedung itu. Anak-anak sekolah sering melihat orang-orang disuruh berbaris lalu dipukuli dengan bentakan-bentakan keras. Mereka para penduduk yang tidak tahu menahu urusan politik harus menanggung beban akibat peristiwa 65. Malam hari mereka diambil dan diangkut truk untuk dibunuh oleh beberapa pemuda di jembatan, lalu mayatnya dilempar ke sungai di beberapa tempat.

Pemilik toko adalah Pak Jarwo. Maka orang menyebut Pak Jarwo Toko Ijo untuk membedakan dengan Jarwo yang lain.  Istrinya termasuk wanita cantik meski sudah mulai beranjak tua. Pak Jarwo adalah anak mantan demang daerah Jatinom di jaman Belanda. Istrinya adalah anak seorang lurah di jaman awal kemerdekaan dari desa Kuwel yang terkenal kerajinan wayang kulit dan sungu (tanduk) untuk dibuat sisir, sisir kutu, susuk rambut, pegangan wayang kulit dan beberapa alat lain.

Mereka punya dua anak laki-laki yang sudah dewasa. Satu masih sekolah, satu lagi sudah menikah dan juga mengelola toko di sebelah barat pasar Cokro. Tapi toko si anak tidak bisa menandingi larisnya Toko Ijo.

Di kalangan masyarakat Cokro nama Pak Jarwo tentu populer sebagai pribumi yang berhasil membangun bisnisnya. Bermula dari toko kecil dikelola dengan telaten hingga perlahan menjadi toko yang paling lengkap.

Selain segala barang ada, yang menarik adalah penjaga tokonya, Sumiati, seorang gadis cantik berkulit kuning yang sedang tumbuh. Para pembeli tidak bisa mengelak jika menatap wajahnya, akan menatap untuk kedua, ketiga dan keberapa kali lagi, menikmati kecantikannya. Daya tarik ini menjadi hal yang sering menjadi bisik-bisik di masyarakat.

Sumiati anak seorang pencari pasir di Kali Pusur yang menjadi salah satu sungai penting di daerah itu. Ibunya, Kartiyem,  yang cantik, pernah menjadi pembantu di sebuah toko Tionghoa di kota Delanggu . Malangnya gadis Kartiyem saat muda dihamili juragannya.  Karena juragannya yang sudah punya bini nggak mau bertanggungjawab maka dia diberi sejumlah uang lalu disuruh pulang.

Lalu Kartiyem kawin dengan pemuda desa itu, bernama Giyono.Keduanya lalu menjadikan sungai di belakang rumahnya sebagai sumber mencari uang dengan menambang pasir. Wajah Kartiyem makin hitam terpanggang matahari tiap hari dan mulai memudar kecantikannya, meskipun gurat-gurat kecantikannya masih kelihatan jika wajahnya diperhatikan lebih teliti. Lahirlah beberapa bulan kemudian bayi kecil Sumiati yang putih cantik. Kedua orangtuanya sangat sabar dan telaten merawat Sumiati.

Sumiati tumbuh menjadi anak yang cantik meski orang tidak percaya bila melihat wajah orang tuanya. Kartiyem dan Giyono sangat menyayangi Sumiati. Saat SD maupun SMP banyak orang terpana melihat ada gadis cantik dengan kulit putih di desa itu. Begitu pun guru-gurunya sering mencuri pandang wajah Sumiati. Setelah Sumiati beranjak besar dan menamatkan sekolah menengah pertamanya, Pak Jarwo tertarik untuk mengajak Sumiati bekerja di tokonya.

Tidak salah Pak Jarwo mempekerjakan Sumiati yang pintar melayani pembeli dengan geraknya yang cekatan dan sering memberi alternatif pilihan jika barang yang dicari pembeli tidak ada. Sumiati adalah aset penting bagi Pak Jarwo. Sumiati pun kerasan bekerja di toko itu. (Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.