Ingin Dikado Obat-obatan, Mempelai: Kami Tak Tega Lihat Korban Gempa
Nikah di lokasi bencana. Mempelai menginginkan kado pernikahannya obat-obatan dan perlengkapan bayi untuk korban bencana.
ILHAM WASI
Mamuju
Praka Ahriadi AS sudah bersiap menuju akad. Berbalut setelan jas dan celana hitam, dia menambahkan songkok recca di kepala. Sarung sutra Mandar merah tua dililit di pinggangnya. Hari itu, Senin, 18 Januari 2021, menjadi hari bahagianya. Sebelum pukul 11.00 Wita, ia akan meminang pujaan hati, Suherah, A.Md. Kep. Seorang pegawai di Dinas Kesehatan Mamuju Tengah. Ikrar pernikahan di depan penghulu akan dilangsungkan siang itu.
Namun, di tengah kesiapan itu, seorang lelaki datang ke rumahnya. Lelaki itu korban gempa. Ada bekas luka di telapak kaki kanannya. Dia datang meminta pertolongan. Rumah Praka Ahriadi di Dusun Tamao, Desa Tampalang, Kecamatan Tapalang memang dijadikan posko kemanusian pascagempa.
Gempa juga berdampak di kampung halamannya. Gempa itu pula yang membuat ijab kabul lelaki berusia 30 tahun harus diundur dari jadwal semula Sabtu, 16 Januari.Praka Ahriadi cukup lihai membersihkan luka. Dia membersihkan menggunakan alkohol lalu memberinya betadine, kemudian membalutnya. Yah, Ahriadi memang masih punya bekal ilmu perawatan. Apalagi sebelum lulus menjadi prajurit TNI, dia lulusan SMK Keperawatan.
Selesai memberikan pertolongan, Praka Ahriadi kemudian melepas sarung tangan medis dan berwudu. Bergegaslah dia ke rumah calon istri, Suherah yang berjarak 300 meter dari rumahnya. Ijab kabul berlangsung sederhana. Tak seperti bayangannya, menggelar resepsi seperti undangan yang telah disebar. Dia resmi menyandang status suami.
Kedua suami-istri ini kembali beraktivitas. Praka Ahriadi ke rumahnya. Apalagi, masih banyak warga yang membutuhkan perawatan luka dan membantu distribusi bantuan kepada korban bencana.
Sementara istrinya, Suherah juga harus ke Mamuju menjemput bantuan logistik. Suherah juga relawan. Rumahnya juga menjadi tempat pos gempa bumi. Tenda pernikahan yang sejatinya menjadi tempat menjamu tamu, berubah menjadi pos bantuan gempa. “Yah, mengharukan lah Bang. Di sisi lain bahagia, di sisi lain juga sedih melihat kampung kena bencana,” ujar Praka Ahriadi kepada FAJAR, kemarin.
Untuk resepsi pernikahan, katanya, masih akan menunggu kondisi membaik. Saat ini, mereka fokus membantu korban gempa. “Tenaga medis di pos kan tidak ada. Yah, kebetulan lagi saya ini kan lulusan SMK keperawatan. Jadi, saya ambil alih dulu untuk sementara,” ungkap anggota TNI yang pernah bertugas di Papua ini.
Ahriadi sedikit bercerita perjumpaan dengan istrinya. Kali pertama sempat bertemu tahun 2014. Itu pun, hanya melihat Ela –sapaan Suherah sepintas. Komunikasi via telepon dan media sosial terjalin, tetapi tak pernah bertemu langsung. Barulah pernikahan ini menjadi pertemuan mereka kembali. “Tanpa ketemu untuk kedua kalinya, langsung melamar. Saya datang dari Papua bulan Juli 2020, beritahu orang tua, langsung melamar,” ungkap prajurit yang baru bertugas satu bulan lebih di Koramil Budong-budong, Mamuju Tengah.
Apa kado untuk pernikahan mereka? Ahriadi yang memiliki nama akun Facebook Ganti Oli Gratis ini menuliskan. “Kado cukup obat-obatan dan perlengkapan bayi kirim ke posko kami. Kami tunggu.” Tulisnya dengan memasang foto bersama istrinya. Posko bencana di rumah Praka Ahriadi bernama Komunitas Indonesia Selamat. Rekannya, Zulfihadi mengatakan, posko ini fokus pembagian logistik dan bantuan media.
Relawan banyak bergerak di Kecamatan Tapalang menjangkau daerah yang belum tersentuh. Satu hal yang terbersit dalam kata-kata korban bencana di lokasi, pengantaran sembako menuju Mamuju hanya melewati mereka. “Orang di sini hanya bisa mengelus dada. Makanya kita tetap galang para donatur,” ungkapnya. (*)









